Jumat, 05 Agustus 2016

Cara Mudah Membuat Karya Ilmiah Berkualitas


Permasalahan terbesar para peneliti adalah "bagaimana awal saya menulis?". Pertanyaan itu akan dengan sendirinya terjawab jika penelitian diawali dengan suatu persoalan. Penelitian yang sistematis akan diawali dengan masalah-masalah yang kemudian diungkapkan dalam rangkaian deskripsi yang biasa disebut latar belakang. 
Pemilihan dan perumusan masalah adalah salah satu aspek yang paling penting dalam pelaksanaan penelitian dalam bidang apa saja. Para peneliti pemula seringkali proses ini menghabiskan sebagian besar waktu penelitian. Padahal penelitian tidak dapat dilakukan sebelum suatu masalah dapat diidentifikasi, dipikirkan secara tuntas, dan dirumuskan dengan baik. Namun terkadang pula, peneliti pemula sudah mampu mengidentifikasi, dan merumuskan masalah, tapi hanya dalam nalar dan konsep sehingga tidak mampu menuangkan dalam rangkaian tulisan.

Pertanyaan yang sering muncul dari seorang peneliti pemula adalah “bagaimana saya dapat menemukan satu persoalan penelitian?”, meskipun tidak ada kaidah yang pasti terhadap rumusan persoalan penelitian, yang jelas, namun ada beberapa hal yang terbukti menjadi sumber masalah penelitian, yaitu topik, objek, dan literatur yang ada kaitannya. Ketiga maslah tersebut akan terangkum dalam tiga aspek besar yang termuat di latar belakang masalah, yakni aspek teoretis, aspek faktual, dan aspek relevansi. Dari ketiga hal tersebutlah rumusan masalah dari suatu penelitian dideskripsikan.
Aspek teoretis adalah aspek yang memuat pemilihan teori atau literatur yang menjadi topik penelitian. Misal, kita menggunakan variabel loyalitas pelanggan, maka di laar belakang paling tidak ada definisi, faktor yang mempengaruhi dan cara mengukurnya bagaimana.
Aspek faktual adalah hal yang menceritakan objek penelitian yang akan dikaji. Pengalaman dan permasalahan atau temuan di lapangan dipaparkan secara kronologis dan sistematis (prevalensi). Aspek relevansi adalah keterkaitan jurnal terdahulu dengan penelitian yang akan kita lakukan. Jurnal acuan harus mengungkapkan research gap (kesenjangan penelitian). Hal ini menunjukkan orisinalitas penelitian dan kelayakan penelitian untuk diteliti lebih lanjut.

Kendala yang sering dihadapi peneliti pemula?

Para peneliti pemula sering sudah menemukan pengertian umum tentang persoalannya, tapi kesulitan untuk merumuskannya sebagai suatu persoalan penelitian yang dikerjakan. Artinya, tidak dapat melangkah maju sebelum dapat menyatakan suatu persoalan konkret yang dapat diteliti.

Sebagai contoh, seorang peneliti menyatakan bahwa ia berminat menyelidiki keefektifan kurikulum Ilmu Pengetahuan Alam baru di sekolah menengah. Dengan pernyataan seperti itu, orang dapat mengerti secara umum apa yang ingin dilakukannya, serta dapat menyampaikan hal itu secara umum pula. Akan tetapi, peneliti harus menetapkan persoalan tersebut jauh lebih jelas lagi, kalau ingin menemukan cara untuk menyelidikinya.

Bagaimana cara mengatasinya?

Untuk menyelesaikan masalah perumusan masalah ini, yang pertama yang harus diketahui bahwa bentuk deskripsi permasalahan atau latar belakang masalah yang tertuang adalah berbentuk piramida terbalik. Seorang peneliti mula-mula harus menentukan pokok persoalan penyelidikan yang bersifat umum, pilihan seperti itu bersifat sangat pribadi dan tergantung dari kemauan dan peguasaan peneliti dalam menguraikan masalahnya, tetapi hendaknya masalah umum tersebut benar-benar dikuasai dan merupakan bidang yang menarik dan berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kalau tidak, akan sulit mengarahkan deskripsi permasalahan yang mengkrucut kepada masalah yang akan diteliti. Pengetahuan, pengalaman dan lingkungan peneliti, biasanya menjadi alternatif pilihan untuk hal ini.

Setelah dipilih pokok persoalan yang bersifat umum tadi, kemudian dipersempit kepada hal yang sifatnya pertengahan, dalam artian seorang peneliti mendeskripsikan sesuatu sebagai penyambung atau penengah antara persoalan umum tadi dengan hal yang sempit. Hal yang bersifat umum tadi dipersempit sampai menjadi persoalan yang mengkhusus dan menjurus serta menentukan pertanyaan yang harus dijawab. Peneliti juga harus menyatakan dengan tepat kemungkinan apa yang akan dilakukan untuk menjawab pertanyaan itu.
Salah satu ciri penting penelitian ilmiah ialah, bahwa penelitian tersebut harus dapat ditiru atau diulang (replicable), sehingga hasil-hasilnya dapat dibuktikan. Replikasi suatu studi, dengan atau tanpa variasi, mungkin dapat menjadi kegiatan yang berfaedah dan berharga bagi peneliti pemula. Pengulangan suatu studi dapat meningkatkan luasnya jangkauan generalisasi hasil penelitian sebelumnya serta memberikan bukti tambahan tentang validitas hasil tersebut. Dalam banyak eksperimen penelitian, kita tidak dapat memilih subyek secara acak, melainkan harus menggunakan kelompok-kelompok sebagaimana adanya. Sudah barang tentu hal ini akan membatasi jangkauan generalisasi hasil-hasil penelitian tersebut. Akan tetapi, dengan diulanginya eksperimen-eksperimen pada waktu dan tempat yang berlainan, dengan hasil yang menguatkan hubungan-hubungan yang diharapkan itu pada setiap penyelidikan, maka kepercayaan terhadap validitas ilmiah hasil-hasil tersebut pun akan meningkat.

Sesudah masalah dipilih dan signifikan atau pentingnya masalah itu ditetapkan, maka tugas berikutnya ialah merumuskan atau mengemukakan persoalan tersebut dalam bentuk yang dapat diteliti. Penjabaran persoalan yang baik harus menerangkan dengan jelas apa yang akan diterangkan atau dipecahkan, dan membatasi ruang-lingkup suatu persoalan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirangkum beberapa langkah berikut:
  1. Cari topik/isu yang sedang marak di masyarakat
  2. Cari jurnal yang relevan dengan topik/isu yang sudah ditemukan
  3. Tentukan judul yang menarik dan unik. Untuk mempermudah, sebelum membuat judul, tentukan arah/pendekatan penelitian kuantitatif atau kualitatif (secara umum pendekatan penelitian). Jika kuantitatif, paling mudah kita menggunakan kata "pengaruh", jika kualitatif cenderung bebas yang penting menarik dan unik.
  4. Tentukan rumusan masalah yang tepat
  5. Pikirkan goal (harapan yang ingin dicapai) dari penelitian karena ini yang akan mengarahkan dan memperjelas ruang lingkup penelitian. 
Demikian, Tips yang bisa saya sampaikan, mungkin sederhana tapi semoga bermanfaat!!!

Salam...
 Contoh latar belakang dan rumusan masalah sederhana dapat dilihat selanjutnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar