CRITICAL
REVIEW JURNAL
INTEGRATED
CHANGE: CREATING SYNERGY BETWEEN LEADER AND ORGANIZATIONAL DEVELOPMENT
Ashley M. Guidroz, Karen W. Luce, dan
Daniel R. Denison (2010)
A. Pendahuluan
Jurnal
Guidroz dkk. (2010) mengembangkan teori Kotler (1996) bahwa transformasi sukses
melalui kepemimpinan 70 s/d 90% daripada manajemen (30%). Hal ini karena perubahan
organisasi membutuhkan sumber daya manusia yang tepat. Oleh karena itu,
penelitian ini menawarkan integrasi perubahan organisasi dengan mensinergikan
kepemimpian dan pengembangan organisasi.
Penelitian
Guidroz dkk. (2010) merupakan studi kasus perusahaan manufaktur global karena
meihat tingkat kepemimpinan yang masih konvensional. Guidroz dkk. (2010)
menawarkan rencana strategis perubahan organisasi melalui integrasi pelatihan
kepemimpinan dan pengembangan organisasi. Hal ini dilandasi bahwa pemimpin
puncak organisasi membutuhkan keselarasan strategi bisnis dna tujuan
organisasi.
Guidroz
dkk. (2010) menyatakan bahwa mengintegrasikan penilaian organisasi dalam sebuah
program untuk pengembangan kepemimpinan memungkinkan organisasi mengelola
keuangan, waktu, dan sumber daya, modal manusia secara efisien. Tujuan dari
program ini adalah untuk meningkatkan keterampilan top manajemen, kesadaran kekuatan
dan kelemahan masing-masing, dan kesadaran pemimpinnya sehingga berdampak pada
budaya organisasi.
Lebih
lanjut Guidroz dkk. (2010) menyatakan bahwa pemikiran Kotler bahwa menggunakan
pengembangan kepemimpinan sebagai inisiatif budaya organisasi menawarkan banyak
keuntungan. Perubahan budaya yang paling berhasil bila ada dukungan top
manajemen organisasi. Ketika nilai-nilai dan keyakinan
dimodelkan oleh top manajemen, norma-norma untuk perilaku ditetapkan dan secara
implisit dikomunikasikan ke seluruh organisasi. Sebagai akibatnya, membantu
kepemimpinan senior mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan untuk mendukung
strategi baru organisasi yang merupakan bagian integral dari memulai
transformasi budaya yang bermakna. Dengan kata lain, mengintegrasikan kegiatan
pengembangan kepemimpinan dalam inisiatif pengembangan organisasi ini bukan konsep
baru tapi sering kali dapat menghasilkan hasil yang jauh lebih baik daripada
ketika keduanya dilakukan secara terpisah.
Kajian
empiris yang mendukung Guidroz dkk. (2010) dalam jurnalnya yakni penelitian Barriere
dkk. (2002) untuk meningkatkan budaya organisasi di sebuah rumah sakit New
York. Barriere dkk. (2002) merancang inisiatif pengembangan kepemimpinan untuk
membantu rumah sakit menciptakan budaya yang lebih inovatif dan adaptif.
Inisiatif termasuk program pengembangan dengan komponen umpan balik multisource untuk semua manajer.
Inisiatif ini sangat sukses dan menghasilkan hasil modal finansial dan manusia
yang positif.
Melalui
kajian di perusahaan manufaktur, Guidroz dkk. (2010) menawarkan temuan program
kepemimpinan dan pengembangan organisasi. Program ini dilandasi teori “perubahan
budaya sukses jika didukung oleh top manajemen organisasi”. Kunci suksesnya
adalah:
- Kepemimpinan senior menetapkan harapan yang jelas
- Membuat rencana komunikasi yang matang
- Memantau segala sesuatu dengan seksama selama proses berlangsung
- Memobilisasi tim HR internal yang dilatih untuk membantu pembinaan
- Memberikan bimbingan dan dukungan kepemimpinan
Hasil
pelatihan program, Guidroz dkk. (2010) menyimpulkan bahwa proses pengembangan
organisasi dan kepemimpinan terpadu terbukti menjadi latihan yang berharga bagi
organisasi. Mengintegrasikan kedua kegiatan ini dapat memobilisasi sejumlah
besar karyawan, dan memberdayakannya untuk menciptakan perubahan organisasi.
B. Telaah
Kritis mengenai program kepemimpianan dan pengembangan organisasi Guidroz dkk.
(2010)
Hasil
penelitian Guidroz dkk. (2010) menyimpulkan bahwa proses pengembangan
organisasi dan kepemimpinan terpadu terbukti menjadi latihan yang berharga bagi
organisasi. Mengintegrasikan kedua kegiatan ini dengan memberdayakannya
karyawan dapat menciptakan perubahan organisasi. Hal ini senada dengan hasil
penelitian yang dilakukan Thomas (2014), bahwa perubahan manajemen melalui
kepemimpinan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan. Ini
dikuatkan Kraus
dan Wilson (2014) bahwa dengan pengembangan kepemimpinan melibatkan
berbagai praktik diakui penting untuk memaksimalkan potensi sumber daya manusia
dan peluang pertumbuhan organisasi.
Hal
ini sejalan dengan pernyataan Ikinci (2014), bahwa pendekatan kepemimpinan saat
ini mampu menciptakan perubahan organisasi, melakukan perubahandan menjadi
sukses di lingkungan ketidakpastian. Ini adalah poin penting bahwa sumber daya
manusia harus digunakan secara lebih efektif dan efisien agar tetap mengikuti
perkembangan, transformasi yang dialami dan memiliki daya saing. Oleh karena
itu, dalam rangka meningkatkan kinerja sumber daya manusia, untuk meningkatkan
tingkat pengetahuan dan keterampilan dan beradaptasi terhadap perubahan
organisasi, perhatian harus diberikan pada fasilitas pelatihan dan tindakan
untuk meningkatkan keefektifannya.
Menurut
Thomas (2014), agar perubahan berhasil, aspek manusia harus berhasil ditangani
agar tidak terjadi perlawanan terhadap Perubahan. Penerapan perubahan sering
mengakibatkan ketegangan organisasi dan berisiko, stres dan kompleks. Namun,
hal itu bisa efektif dengan gaya manajemen partisipatif seperti melatih
karyawan. Pada perubahan selama implementasi yang memberikan pengetahuan,
keterampilan dan keahlian yang dibutuhkan. Untuk memperbaiki kinerja, perubahan
harus dilakukan pada proses dan sistem struktur atau peran pekerjaan. Namun,
para manajer harus menunjukkan kepemimpinan yang kuat di seluruh organisasi
dengan menyebarkan kepemimpinan dan tanggung jawab pengambilan keputusan agar
bisa menginspirasi dan memotivasi karyawan untuk berperan aktif dalam
menerapkan perubahan sehingga memperbaiki kinerja. Untuk implementasi perubahan
yang berhasil, karyawan harus dilatih dengan benar dalam perubahan. Untuk
menghindari perlawanan terhadap perubahan, strategi perubahan yang tepat harus
dilakukan oleh manajer perubahan strategi partisipatif. Organisasi juga harus
menggunakan layanan internal mengubah manajer untuk bekerja bahu-membahu dengan
ahli yang dipekerjakan secara eksternal sehingga dapat memfasilitasi pertumbuhan
kinerja dan kelancaran pelaksanaan perubahan. Singkatnya, langkah-langkah
proaktif dalam pendekatan harus didorong dalam mengelola perubahan. Ini akan
mengurangi efek negatif terhadap kinerja organisasi.
Hiatt (2006), mengatakan organizational
change management melibatkan sebuah proses dan alat-alat yang tepat untuk
melakukannya. Alat-alat yang tepat
tersebut digunakan untuk mengatur orang-orang yang memiliki keinginan untuk
berubah pada sebuah level organisasi. Alat-alat yang digunakan termasuk
pendekatan yang terstruktur yang dapat digunakan secara efektif untuk
mentransisi sebuah kelompok atau organsasi melalui perubahan. Organizational change sendiri merupakan
sebuah perubahan yang ada dan terjadi di dalam organisasi.
Menurut Robbins (2013), organisasi, pada hakekatnya memang konservatif. Secara aktif individu di
dalam organisasi menolak perubahan. Terdapat enam sumber penolakan atas perubahan.
- Inersia Struktural. Artinya penolakan yang terstrukur. Organisasi, lengkap dengan tujuan, struktur, aturan main, uraian tugas, disiplin, dan lain sebagainya menghasil- kan stabilitas. Jika perubahan dilakukan, maka besar kemungkinan stabilitas terganggu.
- Fokus Perubahan Berdampak Luas. Perubahan dalam organisasi tidak mungkin terjadi hanya difokuskan pada satu bagian saja karena organisasi merupakan suatu sistem. Jika satu bagian dubah maka bagian lain pun terpengaruh olehnya. Jika manajemen mengubah proses kerja dengan teknologi baru tanpa mengubah struktur organisasinya, maka perubahan sulit berjalan lancar.
- Inersia Kelompok Kerja. ketika individu mau mengubah perilakunya, norma kelompok punya potensi untuk menghalanginya. Sebagai anggota serikat pekerja, walau sebagai pribadi kita setuju atas suatu perubahan, namun jika perubahan itu tidak sesuai dengan norma serikat kerja, maka dukungan individual menjadi lemah.
- Ancaman Terhadap Keakhlian. Perubahan dalam pola organisasional bisa mengancam keakhlian kelompok kerja tertentu. Misalnya, penggunaan komputer untuk merancang suatu desain, mengancam kedudukan para juru gambar.
- Ancaman terhadap hubungan kekuasaan yang telah mapan. Mengintroduksi sistem pengambilan keputusan partisipatif seringkali bisa dipandang sebagai ancaman kewenangan para penyelia dan manajer tingkat menengah.
- Ancaman Terhadap Alokasi Sumberdaya. Kelompok-kelompok dalam organisasi yang mengendalikan sumber daya dengan jumlah relatif besar sering melihat perubahan organisasi sebagai ancaman bagi mereka. Misal apakah perubahan akan mengurangi anggaran atau pegawai kelompok kerjanya.
Belias dan Koustelios (2014) dalam penelitiannya
tentang kepemimpinan dikaitkan dengan budaya organisasi, menyatakan bahwa kuncinya
adalah memilih pendekatan budaya yang tepat. Perubahan adalah untuk mengetahui
bagaimana fungsi organisasi. Visi merupakan aspek utama kepemimpinan dan
dikaitkan dengan budaya organisasi. Umumnya, para pemimpin memainkan peran
penting dalam memilih dan merencanakan manajemen perubahan yang tepat untuk pendekatan.
Singkatnya, penting bagi para pemimpin organisasi menciptakan suasana keamanan
psikologis bagi semua individu untuk terlibat. Karyawan perlu dilibatkan untuk
memverifikasi keabsahan keyakinan baru, memeriksa konsekuensi untuk dirinyasendiri
sebagai individu, dan mengeksplorasi bagaimana karyawan dapat berkontribusi
terhadap usaha perubahan.
Ini sesuai hasil penelitian Baesu dan Bejinaru
(2013), bahwa kepemimpinan sebagai instrumen dengan potensi besar untuk
membentuk organisasi, tentu saja dengan mengarahkan karyawan. Kepemimpinan
adalah proses menghasilkan perubahan, tidak mempertahankan status quo.
Perubahan ini tidak dipaksakan oleh pemimpin, tapi ini adalah proses berbagi
tujuan dan nilai yang sama. Di dalam organisasi, pemimpin harus menjadi
promotor perubahan. Pemimpin memiliki kekuatan untuk mempengaruhi orang lain
dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan tertentu. Seorang pemimpin
perubahan adalah seorang individu dengan kemampuan untuk mempengaruhi dan pada
akhirnya mengubah perilaku karyawan, tim, dan organisasi. Sebuah aspek penting kepemimpinan
adalah mempengaruhi orang lain untuk memiliki visi bersama. Inisiasi dan
koordinasi suatu proses perubahan selalu membutuhkan keterampilan kepemimpinan
yang berkembang dengan baik. Memimpin orang melalui perubahan adalah sebuah proses
sulit di sepanjang yang mungkin ditemui berbagai tingkat resistensi. Hal ini
karena individu memiliki naluri alamiah untuk menolak perubahan dan terutama
menolak perubahan radikal dan hanya pemimpinnya yang punya kemampuan untuk
mengatasi hal ini.
Penelitian Guidroz
dkk. (2010) ternyata tidak sejalan dengan penelitian Kaiser dan Curpy (2013). Menurut Kaiser dan Curpy (2013)
pelatihan dan pengembangan kepemimpinan adalah bisnis besar. Di Amerika Serikat
saja, selama 15 tahun terakhir untuk menjadi industri senilai $ 14 miliar.
Artinya, program pelatihan kepemimpinan dan pengembangan organisasi membutuhkan
biaya yang besar. Psikolog konsultasi sangat diuntungkan dari pertumbuhan eksplosif
ini. Meskipun demikian, warga sekitar masih kurang percaya pada pemimpin sektor
publik dan swasta, dan organisasi khawatir tidak memiliki cukup pemimpin yang
baik.
Menurut Kaiser dan Curpy (2013) faktor ini karena
masalah dengan kepemimpinan di era modern cukup signifikan dan jauh lebih besar
daripada bidang psikologi konsultasi. Secara khusus, Kaiser dan Curpy (2013) penelitian
mendorong psikolog konsultasi untuk memeriksa praktiknya sendiri dan mendorong
klien organisasinya untuk melakukannya
- Secara sistematis mengevaluasi dampak perilaku dan organisasi dari pengembangan kepemimpinan;
- Menentukan kepemimpinan dalam hal membangun tim yang mengungguli kompetisi;
- Membuat model kompetensi yang mencerminkan keterampilan yang dibutuhkan untuk memimpin tim;
- Melakukan penilaian yang mengidentifikasi bagaimana pemimpin mempengaruhi fungsi tim.
- Memfokuskan upaya pelatihan dan pengembangan untuk meningkatkan kinerja tim dan organisasi.
- Mengajarkan para pemimpin tentang pengikut dan bagaimana memotivasi pengikut;
- Membuat keputusan yang lebih tepat tentang siapa yang bisa menjadi pemimpin yang lebih baik dan siapa yang cenderung menjadi pemimpin hebat, dan berinvestasi pada populasi ini;
- Reward jalur karir lainnya sehingga peran kepemimpinan tidak hanya mencari status dan prestise; dan
- Menekankan karakter dan efek kekuatan dalam memilih dan mengembangkan pemimpin.
Meskipun ada sedikit bukti yang menunjukkan nilai
ekonomi, tidak diragukan lagi bahwa progam ini menimbulkan jumlah uang yang
sangat besar.
Namun demikian, penulis masih tetap mendukung konsep
Guidroz dkk. (2010)
tentang integrasi kepemimpinan dan pengembangan organisasi. Menurut pandangan
penulis, hal ini karena beberapa alasan mengapa dua kegiatan tersebut
diintegrasikan:
1. Isu
strategis yang berbeda dapat ditangani bersama.
2. Lebih
ekonomis menggunakan sumber daya berharga termasuk waktu, uang dan personil.
3. Keterlibatan
kepemimpinan yang lebih dekat dengan proses perubahan budaya. Prospek untuk
berhasil dengan inisiatif radikal seperti ini meningkat secara signifikan bila
didukung
Organisasi
atas norma perilaku baru menjadi lebih cepat terjadi di perusahaan tempat
eksekutif merangkul dan mengkomunikasikan nilai dan kepercayaan yang
mendukungnya. Dengan mengintegrasikan kedua inisiatif tersebut, para pemimpin
dapat menjadi informasi yang lebih baik mengenai transformasi budaya sekaligus
mengembangkan atau meningkatkan kompetensi yang dibutuhkan untuk memberikan dukungan
yang efektif baik selama perubahan maupun setelahnya. Selain itu, mengambil
opsi ini daripada menjalankan kedua program secara independen seringkali
memberikan hasil yang jauh lebih baik.
Berdasarkan pemikiran Guidroz dkk. (2010) dapat dikatakan bahwa kunci
keberhasilan program tersebut adalah keterlibatan sumber daya manusia (SDM).
Dengan bijak, organisasi tersebut mengizinkan personil SDM untuk berkolaborasi
dengan penyedia eksternal model terpadu. Hal ini memastikan bahwa karyawan
internal dilatih untuk menasihati pemimpin, yang juga mendapat manfaat dari
pengetahuan bahwa SDM dapat memberikan sumber nasihat atau dukungan yang berharga
selama pengembangan yang sedang berlangsung. Refleksi selalu penting dalam
setiap skema pengembangan. Para pemimpin diperlihatkan bagaimana menafsirkan
temuan survei dan diundang untuk mempertimbangkan signifikansinya pada tingkat
individu, fungsi dan organisasi selama sesi pelatihan yang diadakan sesudahnya.
Refleksi ini membantu para eksekutif untuk lebih menyadari bagaimana perilaku
kepemimpinan dan pengaruh budaya departemen terhadap keseluruhan organisasi.
Hasil dalam hal ini menunjukkan kelemahan yang berkaitan dengan fokus pelanggan
dan pengembangan bakat di dalam perusahaan. Dengan mendorong para pemimpin
untuk merenungkan kemampuan nya, maka dapat menyempurnakan rencana pegembangan yang
akan membantu pencapaian pertumbuhan pribadi dan organisasi.
Penulis
merangkum bagaimana cara memastikan
program yang terintegrasi akan berhasil dengan menggambarkan bagaimana mengintegrasikan
perubahan budaya dan pengembangan kepemimpinan dapat membantu perusahaan
mengeksploitasi kekuatan pemimpin untuk memperbaiki aspek budaya di dalam
departemen tertentu atau keseluruhan perusahaan. Untuk lebih menjamin bahwa
pemimpin sepenuhnya fokus, persentase tujuan individu dan departemen terkait
dengan pengambangan.
Kompleksitas yang terlibat dalam menyelaraskan
kepemimpinan dan perubahan budaya menuntut dukungan dan komitmen yang besar di
seluruh perusahaan, terutama ketika sejumlah besar eksekutif berpartisipasi
dalam program ini. Untuk meningkatkan peluang inisiatif yang sukses, perusahaan
dapat menempatkan langkah-langkah kunci termasuk:
1. Tutup
keterlibatan dari manajemen senior sejak awal untuk membantu mengatur agenda
dan mengklarifikasi harapan. Karena itu, akuntabilitas dibangun ke dalam
program sejak awal.
2. Sistem
komunikasi dan umpan balik yang jelas yang menjelaskan tujuan, garis waktu dan
tenggat waktu proses.
3. Pemantauan
ketat untuk segera mengidentifikasi dan mengatasi masalah apa pun saat mereka
muncul.
4. Dukungan
dari anggota HR yang terlatih secara khusus.
5. Umpan balik
satu lawan satu untuk memastikan setiap pemimpin mampu menciptakan rencana
pengembangan pribadi yang dapat melayani kebutuhannya sendiri dan perusahaan.
C. Kesimpulan
Kajian
ini didasarkan pada jurnal Guidroz dkk. (2010). Penulis menyimpulkan bahwa pengembangan
kepemimpinan dan perubahan budaya dalam sebuah organisasi dan mengusulkan
sebuah program terpadu sebagai pilihan terbaik. Dalam sebuah karya informatif, penelitian
ini mengajukan berbagai keuntungan dari pendekatan ini dan menjelaskan secara
rinci bagaimana program semacam itu berhasil diterapkan dalam perusahaan,
khususnya manufaktur.
Daftar Pustaka
Baesu, C. dan Bejinaru, R. (2013). Leadership Approaches Regarding The Organizational
Change. The USV Annals of Economics and
Public Administration, Volume 13, Issue 2(18), 2013
Belias, D. dan Koustelios, A. (2014). The Impact Of Leadership And Change
Management Strategy On Organizational Culture. European Scientific Journal March 2014 edition vol.10, No.7
Guidroz, Ashley
M., Luce, Karen W., dan Denison, Daniel R. (2010). Integrated change: creating synergy
between leader and organizational development. Industrial and Commercial Training, Vol. 42 Iss 3 pp. 151 - 155
Hiatt, Jeffrey M. (2006). ADKAR: a modelfor change in business,
government and our community. Loveland, CO: Prosci Research
İkinci, Sinem S. (2014). Organizational
Change: Importance of Leadership Style and Training. Management and Organizational Studies, Vol. 1, No. 2; 2014
Kaiser, Robert B. dan Curpy, G. (2013). Leadership Development: The Failure
Of An Industry And The Opportunity For Consulting Psychologists. Consulting Psychology Journal: Practice and
Research, 2013, Vol. 65, No. 4, 294–302
Kraus, Aaron J. dan Wilson, Chantale N. (2014). Leadership
Development for
Organizational Success. A White Paper prepared by the Visibility Committee of the Society for Industrial and Organizational Psychology
Organizational Success. A White Paper prepared by the Visibility Committee of the Society for Industrial and Organizational Psychology
Robbins, P.
(2013). Organizational Behavior, 15th ed. New Jersey: Pearson Education, Inc.
Thomas, Olajide O. (2014). Change Management and its Effects on
Organizational Performance of Nigerian Telecoms Industries: Empirical Insight
from Airtel Nigeria. International Journal of Humanities Social Sciences and
Education (IJHSSE), Volume 1,
Issue 11, November 2014, PP 170-179
Tidak ada komentar:
Posting Komentar